Indra Sjafri, Blusukan Hingga Target Lolos Piala Dunia 2034!

Tidak banyak sosok pelatih sepakbola negeri ini yang saya sukai. Dulu, ada nama Rusdi Bahalwan mantan pelatih Persebaya Surabaya di medio 90-an yang mencuri perhatian saya dengan membawa tim green force juara perserikatan. Dua dekade kemudian, ada sosok pelatih yang bisa mencuri perhatian saya. Dia adalah Indra Sjafri. Kenapa sosok pelatih kelahiran Sumater Barat itu menarik?


Alasan utama hanya satu, Indra Sjafri adalah satu-satunya pelatih lokal yang mampu membawa timnas meraih juara dalam sebuah turnamen resmi. Ya, pada tahun 2013 silam Indra mampu menghadirkan dahaga juara bagi penggila bola negeri ini setelah membawa Timnas U-19 menjuarai Turnamen Piala AFF U-19 di Sidoarjo. Di final Evan Dimas dkk. sukses membekuk Vietnam lewat adu penalti. Tidak ada satupun pelatih negeri ini yang bisa menghadirkan trofi juara bagi timnas merah putih pasca Danurwindo mempersembahkan emas SEA Games 1991 Manila. Pun, publik lebih mengenal nama Anatoli Polosin sebagai head coach Ferri Hattu dkk. bukan Danurwindo kala itu. Polosin memang menjadi kepala pelatih timnas kala itu bersama dua pelatih lainnya, Danurwindo dan Vladimir Urin.

Kembali soal Indra Sjafri. Salah satu kelebihan seorang Indra dalam melatih adalah karakternya yang tegas terhadap federasi. Ia tidak mau urusan teknis kepelatihan, termasuk memilih pemain, direcokin. Karakter itu kemudian diterjemahkannya dalam sebuah road show ke daerah-daerah, bahasa kekiniannya adalah blusukan, untuk mencari talenta-talenta berbakat negeri ini untuk dipolesnya menjadi pemain matang. Maka, tidak heran jika di Timnas U-19 edisi 2013 silam Indra punya skuad yang dihuni nyaris dari seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Miftahul Hamdi pemuda asal Aceh hingga Alqomar Tahupelasury dari Ambon.

Melihat cara main Evan Dimas dkk di Piala AFF U-19 hingga Piala Asia U-19, kita bisa melihat bahwa Indra menyukasi sepakbola yang sabar, perlahan, bola-bola pendek, dan kemudian menghukum lawan lewat kecepatan penyerang sayapnya. Jika sayap buntu, Evan Dimas dari jantung permainan siap menjadi algojo berikutnya. Tidak heran jika di eranya, selain Evan Dimas, pemain yang menonjol adalah Ilham Udin dan Maldini Pali, keduanya pemain sayap Timnas U-19.

Di tahun 2017, Indra Sjafri kembali diberi tanggung jawab untuk memimpin Timnas U-19. Misi dimulai di turnamen Toulon, Prancis. Turnamen yang pernah melahirkan bintang dunia sekelas Cristiano Ronaldo dan Zinedine Zidane itu diselenggarakan medio Juni 2017. Menurut laman okezone.com (22/11/2017) Timnas tergabung di Grup C bersama Brasil, Republik Ceko dan Skotlandia. Dalam tiga laga itu, Indonesia memang selalu kalah. Namun, Witan Sulaiman dan kawan-kawan memberikan perlawanan sengit. Mereka hanya kalah 0-1 dari Brasil, Republik Ceko (0-2) dan Skotlandia (1-2). Bahkan, gelar pemain paling berbakat turnamen tahun itu menjadi milik Egy Maulana Vikri. Sebuah gelar yang juga pernah diraih dua superstar sepakbola di atas.

Petualangan Indra Sjafri di tahun 2017 berlanjut di Myanmar dalam turnamen Piala AFF U-19. Setelah absen di edisi 2015 akibat sanksi FIFA, Indonesia kembali tampil di turnamen dua tahunan itu. Target yang dibebankan adalah juara! Indra Sjafri punya skuad yang tidak kalah mentereng dibanding edisi 2013. Sejumlah nama mulai dikenal luas seperti Rahmat Irianto sang putra legenda Persebaya, Bejo Sugiarto, Witan Sulaiman si sayap lincah, Saddil Ramdani, Hanis Saghara dan tentu saja Egy Maulana Vikri.

Sempat kalah 0-3 dari Vietnam di penyisihan grup, Egy dkk akhirnya berhasil menjadi juara grup B dan akan menghadapi Thailand di semifinal. Penampilan impresif anak-anak muda pilihan Indra mempesona penonton. Bahkan, ketika harus bermain dengan 10 pemain pasca tidakan bodoh Saddil yang dikartu merah hanya semenit usai dimasukkan, Egy dkk justru mendominasi permainan. Peluang demi peluang tercipta. Hanya karena kegemilangan seorang Kantaphat Manpati, penjaga gawang tim gajah putihlah yang membuat merah putih terhambat. Alhasil, di babak tos-tosan, sang kiper berhasil mengagalkan 3 eksekutor garuda. Peluang juara pupus.

Indra tidak mau dipermalukan lagi. Di perebutan tempat ketiga, Indonesia kembali menghadapi Myanmar sang tuan rumah. Di babak grup, Egy sudah pernah menang 2-1. Banyak pengamat memprediksi pertandingan ini akan ketat. Namun, nampaknya semua prediksi salah besar. Anak asuh Indra Sjafri tanpa ampun memberondong gawang tuan rumah sebanyak 7 kali dan hanya kebobolan 1. Indonesia mengalahkan Myanmar sekaligus merebut juara tiga dengan skor 7-1!

Walau gagal meraih gelar juara, taktik brilian dari Indra yang mampu diimplementasikan dengan baik oleh Egy dkk. mendapat apresiasi dari publik tanah air. Timnas U-19 siap menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-19 di Korea Selatan November 2017.

Indonesia satu grup dengan tuan rumah Korea Selatan, Malaysia, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Indra Sjafri sebenarnya tidak punya beban dalam kualifikasi kali ini pasalnya apapun hasilnya, Indonesia dipastikan melaju ke putaran final karena statusnya sebagai tuan rumah turnamen.

Indra mampu menghadirkan penampilan ciamik dari anak asuhnya pada dua laga awal. Brunei dan Timor Leste dibantai masing-masing 5-0. Laga berat melawan Korea di partai berikutnya menjadi antiklimaks. Egy dkk dibantai 4-0. Pada laga ini terlihat bagaimana Indra nampak kebingungan dengan strategi yang dihadapi. Pressure ketat dari anak-anak negeri gingseng menghadirkan berbagai kesalahan di lini belakang hingga kebobolan 4 gol. Laga terakhir seharusnya bisa menjadi partai penutup yang indah. Lawan hanyalah Malaysia yang di Piala AFF U-19 walau sebagai runner up namun penampilannya tidak terlalu impresif. Dan ternyata Indra lagi-lagi mengalami hal memalukan. Timnas dibantai 4-1 sekaligus menjadi kekalahan kedua dan ‘membiarkan’ Malaysia lolos ke putaran final dengan status salah satu runner up terbaik.

Hasil minor di Korea berdampak cukup besar bagi karir Indra Sjafri. PSSI akhirnya mencopot Indra dari status pelatih timnas U-19. Dengan dalih akan mendapat tugas baru di PSSI untuk mengurus sektor pengembangan sepak bola Indonesia menuju Piala Dunia 2034 seperti dikutip dari liputan6.com (17/11/2017). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tugas baru itu, toh memang itu keahlian Indra selama ini, mencari bibit pemain muda dan mengorbitkannya. Namun, waktunya yang membuat semua curiga bahwa tugas baru Indra itu adalah buah dari hasil buruk di Korea.

Namun, terlepas dari keputusan PSSI tersebut, Indra Sjafri tetaplah pelatih hebat negeri ini. Kemauannya untuk blusukan mencari bakat-bakat muda dan taktik sepak bola modern yang diperagakan anak asuhnya di lapangan menjaga mimpi negeri ini ke piala dunia tetap terjaga. Indra Sjafri we proud of you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.